Pemikiran


Sekali lagi saya menanyakan kepada diri saya sendiri, kenapa bisa muncul beragam  pemikiran Islam? Padahal Kitab suci nya sama, dan tradisi Nabi pun sama. Kitab suci dan tradisi Nabi kalau diibaratkan dalam sebuah industry, layaknya bahan baku bagi pembuatan sebuah produk. Nah, lantas mesinnya apa? Mesinnya adalah akal fikiran yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Dengan akal ini, kita mengolah bahan baku tadi sehingga menjadi produk yang siap dipasarkan. Lantas apa produknya? Produknya adalah berupa pemikiran-pemikiran keagamaan dengan berbagai coraknya. Ada yang sangat konservatif, ada yang moderat, ada juga yang liberal. Kenapa kok bahan bakunya sama namun produknya bisa berbeda-beda? Hal ini bisa disebabkan cara pembuatannya yang berbeda. Ibaratkan ada seekor ayam mentah, dierahkan kepada beberapa orang ibu, ada yang membuat ayam bakar, ada yang mengolah menjadi ayam goreng, ada juga yang membuat sup ayam. Begitupun dalam pemikiran keagamaan, Kitab Suci dan Tradisi Nabi nya sama, namun metode-metode berfikir yang berbeda menghasilkan produk pemikiran yang berbeda-beda juga. Lantas, kenapa metode berfikir atau memahami Al Quran dan Sunnah bisa berbeda-beda? Hal ini salah satunya disebabkan oleh situasi dan kondisi yang mengitari si pemikir itu. Contohnya dahulu, Imam Malik karena beliau tinggal di Madinah, banyak yang mengetahui hadits Nabi, dan permasalahan yang terjadi relative sama setiap masa, maka beliau tidak terlalu banyak menggunakan akal namun lebih berpegang terhadap teks hadits. Sebaliknya Imam Abu Hanifah yang tinggal di Baghdad, sebuah kota metropolitan yang jauh dari madinah, sehingga tidak banyak hadits yang sampai, lalu dengan permasalahan yang sangat kompleks, maka beliau lebih banyak menggunakan akal fikiran dalam menjawab persoalan-persoalan keagamaan.
Saat produk pemikiran ini berusaha dipasarkan di masyarakat, maka munculah berbagai macam yayasan,ormas majelis ta’lim dll. untuk efektifitas pemasaran tersebut. Di Indonesia ini, apapun yang dijual, selalu ada yang membeli. Jangankan dalam bentuk barang, pemikiran pun, dari yang mulai paling ekstrem, sampai paling liberal, punya pangsa pasar masing-masing di negeri ini. Conohnya, NU itu pangsa pasarnya ya di pesantren tradisional, jadi sangat jarang santri pesantren tradisional yang mengikuti kegiatan rohis yang identic dengan pemikiran tarbiyah. Sedangkan rohis pangsa pasarnya di SMA-SMA umum, sehingga wajar jika para aktivis rohis tidak akrab dengan kultur NU. Belum lagi ormas lain, seperti Muhammadiyah, MTA, Persis dll. Mereka pun turut meramaikan bursa pemikiran keagamaan khususnya Islam di tanah air.
Layaknya sebuah bisnis, pemikiran-pemikiran ini pun mesti berkompetisi untuk dapat menarik simpati dari masyarakat. Siapa yang yang paling bagus mutu barangnya, lalu dibungkus dengan marketing dan branding yang keren, dia yang akan memenangkan kompetisi. Sebaliknya, yang tidak mampu bersaing, maka dia tidak akan laku. Seperti hal nya bisnis pula, kadang salah seorang pelaku bisnis menggunakan cara-cara yang tidak etis untuk menjatuhkan lawan bisnisnya, misalkan dengan menyebarkan fitnah. Ini pula yang kadang terjadi dengan golongan-golongan pemikiran keIslaman di tanah air. Tak jarang satu sama lain saling menjelek-jelekan, ghibah, fitnah dll. Hal ini tentu bertentangan dengan misi dakwah Islam yang seharusnya, yakni mencerahkan suasana, bukan malah membuatnya menjadi keruh. Lalu agar sebuah pemikiran dapat bertahan melintasi zaman, pemikiran tersebut harus senantiasa fleksibel dan lincah dalam menghadapi tantangan zaman yang senantiasa berubah. Ia harus mampu beradaptasi dan berinovasi tanpa kehilangan jati diri. Ia pun harus mempunyai amal nyata yang bermanfaat bagi sesama.

Posting Komentar untuk "Pemikiran"