(Disampaikan pada sesi pertama Kuliah Publik “Logika dalam Menulis: Menata Ide dan Imajinasi, Galeri Soemardja FSRD ITB, Kamis, 6 Mei 2010.)
Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto
• Kerangka pikir logis ilmiah bukanlah hanya menyangkut masalah teknis metode berpikir. Ia berakar pada worldview spesifik, pada kerangka gambaran dunia tertentu beserta disposisi mentalnya yang khas. Worldview tersebut adalah kerangka pandang ‘Dunia Logos’. Untuk memahami Dunia Logos yang spesifik itu ada bagusnya kita membandingkan antara kerangka Dunia Logos dengan kerangka Dunia Mitos.
• Karakter Dunia Mitos:
1. Imajerial. Realitas ditangkap melalui imaji, melalui citraan-citraan imajinatif tertentu. Gunung tertentu, misalnya, terlihat bagai perahu terbalik, maka disebutlah ia gunung Tangkuban Parahu. Imaji memang muncul dari daya imajinasi, dan berkorelasi dengan dunia rasa.
2. Serba Tak Terpilah (Undifferentiated). Segala hal pada prinsipnya bisa menjadi apa pun. Pohon atau binatang bisa dilihat sebagai nenek moyang. Manusia bisa menjadi batu. Laut bisa mengamuk bagai raksasa. Tak ada pemilahan-pemilahan ketat (bahwa pohon bukanlah binatang, bukan pula manusia, misalnya).
3. Partisipatif. Dunia mitos adalah dunia serba kesatuan. Segala sesuatu adalah bagian dari alam yang lebih besar. Manusia, misalnya, adalah jagat kecil, bagian dari jagat besar. Segala sesuatu berpartisipasi, ambil bagian, terhadap yang lain, seperti posisi embrio yang menyatu dengan rahim sang ibu.
4. Lisan. Dunia mitos adalah dunia cerita yang mengandalkan komunikasi lisan dari mulut ke mulut; dunia pandang dengar. Rincian dan ketepatan tak terlalu penting. Yang pokok adalah alur utama. Rincian bisa selalu diimprovisasikan, seperti yang biasa dilakukan seorang dalang.
• Karakter Dunia Logos
1. Konseptual. Kalau imaji mengandung beragam konotasi, maka ‘konsep’ adalah upaya menunggalmaknakan, upaya menetapkan makna pada tingkat harfiahnya; penggunaan makna denotatif yang berkorelasi dengan realitas faktualnya. Kalau saya bicara tentang ‘kursi’, misalnya, saya tidak memaksudkannya sebagai metafora kekuasaan atau pun imaji kenyamanan, melainkan semata-mata sebagai benda yang berfungsi untuk duduk.
2. Presisi spesifikasi. Dunia logos adalah dunia yang memilah ke dalam kategori-kategori berbeda secara ketat. Manusia bukanlah pohon atau gunung. Dewa atau Tuhan bukanlah bagian dari dunia ini. Bahkan segala hal dipilah lagi secara rinci. “Seni”, misalnya, dipilah lagi menjadi seni murni dan seni terapan. Seni murni dipilah lagi menjadi seni lukis, patung, grafis, dst. Hanya dengan pemilahan ketat macam inilah logika ilmiah bisa berjalan.
3. Distansi Kritis. Dunia logos menuntut sikap berjarak agar mampu menganalisis. Bahkan terhadap diri pun, dunia ilmiah harus mengambil sikap objektif, mengurangi unsur dan kecenderungan subjektif. Kerangka dasarnya adalah Subjek yang berhadapan dengan Objek.
4. Tulisan. Dunia logis-ilmiah berkembang melalui budaya baca tulis. Kalau dalam budaya lisan, pemikiran panjang tidak dimungkinkan karena ingatan tak mungkin menampung kalimat panjang, dalam budaya tulisan sebaliknya: pemikiran ditarik terus oleh panjangnya tulisan dan rangkaian kalimat. Di sana dimungkinkan pula melihat kembali jejak tulisan untuk dianalisis dan ditafsir ulang. Budaya tulislah yang berperan sebagai infrastruktur dunia logis-ilmiah.
• Sebagai pergeseran pusat gravitasi peradaban, perubahan dari dunia mitos ke dunia logos atau dari nalar cerita ke nalar diskursif-logis konon terjadi secara simultan pada abad 6 SM di berbagai belahan dunia. Dan itu pula yang dalam jangka panjang akhirnya meledakkan gelombang besar modernisasi di segala bidang. Meskipun demikian, pada akhirnya dunia logis ilmiah pun kini telah mendapat banyak kritik sedemikian sehingga hegemoninya agak berkurang. Ditemukan bahwa dunia logis ilmiah pun mengandung karakter mitos, sejauh ia bersandar pada sistem kepercayaan tertentu dan mengandaikan worldview spesifik tertentu. Sementara sebaliknya, dunia mitos pun mengandung jenis logika tertentu sejauh ia melahirkan berbagai upaya dan sistem terminologi untuk menjelaskan sebab-akibat kenyataan.
• Posisinya kini: nalar mitos atau pun nalar logos kini dilihat sebagai alternatif penjelasan atas realitas dengan kepentingannya sendiri. Masing-masing mempunyai tingkat korespondensi dan signifikansinya sendiri, sebab kebutuhan makna dalam dunia manusia sesungguhnya multi dimensi, dan realitas sendiri pun multi-dimensi. Misalnya saja, penjelasan mitik tetaplah penting untuk penanaman nilai moral dan memahami paradoks-paradoks kehidupan. Penjelasan ilmiah-logis penting untuk merekayasa kehidupan fisik-material dan untuk berkomunikasi ihwal persoalan bersama antar beragam kepercayaan/pandangan-hidup (worldview). Nalar logis-filosofis bisa berfungsi sebagai semacam bahasa ‘netral’ (yang memang terbatas) di mana semua pihak dapat berdialog.
Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto
• Kerangka pikir logis ilmiah bukanlah hanya menyangkut masalah teknis metode berpikir. Ia berakar pada worldview spesifik, pada kerangka gambaran dunia tertentu beserta disposisi mentalnya yang khas. Worldview tersebut adalah kerangka pandang ‘Dunia Logos’. Untuk memahami Dunia Logos yang spesifik itu ada bagusnya kita membandingkan antara kerangka Dunia Logos dengan kerangka Dunia Mitos.
• Karakter Dunia Mitos:
1. Imajerial. Realitas ditangkap melalui imaji, melalui citraan-citraan imajinatif tertentu. Gunung tertentu, misalnya, terlihat bagai perahu terbalik, maka disebutlah ia gunung Tangkuban Parahu. Imaji memang muncul dari daya imajinasi, dan berkorelasi dengan dunia rasa.
2. Serba Tak Terpilah (Undifferentiated). Segala hal pada prinsipnya bisa menjadi apa pun. Pohon atau binatang bisa dilihat sebagai nenek moyang. Manusia bisa menjadi batu. Laut bisa mengamuk bagai raksasa. Tak ada pemilahan-pemilahan ketat (bahwa pohon bukanlah binatang, bukan pula manusia, misalnya).
3. Partisipatif. Dunia mitos adalah dunia serba kesatuan. Segala sesuatu adalah bagian dari alam yang lebih besar. Manusia, misalnya, adalah jagat kecil, bagian dari jagat besar. Segala sesuatu berpartisipasi, ambil bagian, terhadap yang lain, seperti posisi embrio yang menyatu dengan rahim sang ibu.
4. Lisan. Dunia mitos adalah dunia cerita yang mengandalkan komunikasi lisan dari mulut ke mulut; dunia pandang dengar. Rincian dan ketepatan tak terlalu penting. Yang pokok adalah alur utama. Rincian bisa selalu diimprovisasikan, seperti yang biasa dilakukan seorang dalang.
• Karakter Dunia Logos
1. Konseptual. Kalau imaji mengandung beragam konotasi, maka ‘konsep’ adalah upaya menunggalmaknakan, upaya menetapkan makna pada tingkat harfiahnya; penggunaan makna denotatif yang berkorelasi dengan realitas faktualnya. Kalau saya bicara tentang ‘kursi’, misalnya, saya tidak memaksudkannya sebagai metafora kekuasaan atau pun imaji kenyamanan, melainkan semata-mata sebagai benda yang berfungsi untuk duduk.
2. Presisi spesifikasi. Dunia logos adalah dunia yang memilah ke dalam kategori-kategori berbeda secara ketat. Manusia bukanlah pohon atau gunung. Dewa atau Tuhan bukanlah bagian dari dunia ini. Bahkan segala hal dipilah lagi secara rinci. “Seni”, misalnya, dipilah lagi menjadi seni murni dan seni terapan. Seni murni dipilah lagi menjadi seni lukis, patung, grafis, dst. Hanya dengan pemilahan ketat macam inilah logika ilmiah bisa berjalan.
3. Distansi Kritis. Dunia logos menuntut sikap berjarak agar mampu menganalisis. Bahkan terhadap diri pun, dunia ilmiah harus mengambil sikap objektif, mengurangi unsur dan kecenderungan subjektif. Kerangka dasarnya adalah Subjek yang berhadapan dengan Objek.
4. Tulisan. Dunia logis-ilmiah berkembang melalui budaya baca tulis. Kalau dalam budaya lisan, pemikiran panjang tidak dimungkinkan karena ingatan tak mungkin menampung kalimat panjang, dalam budaya tulisan sebaliknya: pemikiran ditarik terus oleh panjangnya tulisan dan rangkaian kalimat. Di sana dimungkinkan pula melihat kembali jejak tulisan untuk dianalisis dan ditafsir ulang. Budaya tulislah yang berperan sebagai infrastruktur dunia logis-ilmiah.
• Sebagai pergeseran pusat gravitasi peradaban, perubahan dari dunia mitos ke dunia logos atau dari nalar cerita ke nalar diskursif-logis konon terjadi secara simultan pada abad 6 SM di berbagai belahan dunia. Dan itu pula yang dalam jangka panjang akhirnya meledakkan gelombang besar modernisasi di segala bidang. Meskipun demikian, pada akhirnya dunia logis ilmiah pun kini telah mendapat banyak kritik sedemikian sehingga hegemoninya agak berkurang. Ditemukan bahwa dunia logis ilmiah pun mengandung karakter mitos, sejauh ia bersandar pada sistem kepercayaan tertentu dan mengandaikan worldview spesifik tertentu. Sementara sebaliknya, dunia mitos pun mengandung jenis logika tertentu sejauh ia melahirkan berbagai upaya dan sistem terminologi untuk menjelaskan sebab-akibat kenyataan.
• Posisinya kini: nalar mitos atau pun nalar logos kini dilihat sebagai alternatif penjelasan atas realitas dengan kepentingannya sendiri. Masing-masing mempunyai tingkat korespondensi dan signifikansinya sendiri, sebab kebutuhan makna dalam dunia manusia sesungguhnya multi dimensi, dan realitas sendiri pun multi-dimensi. Misalnya saja, penjelasan mitik tetaplah penting untuk penanaman nilai moral dan memahami paradoks-paradoks kehidupan. Penjelasan ilmiah-logis penting untuk merekayasa kehidupan fisik-material dan untuk berkomunikasi ihwal persoalan bersama antar beragam kepercayaan/pandangan-hidup (worldview). Nalar logis-filosofis bisa berfungsi sebagai semacam bahasa ‘netral’ (yang memang terbatas) di mana semua pihak dapat berdialog.
Posting Komentar untuk "Dunia Logos dan Dunia Mitos"