Mungkin bagi kawan-kawan yang pernah belajar di madrasah atau pesantren, akan mengenal sebuah kitab tentang sejarah nabi, judulnya Nurul Yaqin. Di dalam kitab itu diceritakan tentang akhir epsode dari perjuangan nabi Muhammad (shallaahu 'alaihi wasallam), yaitu episode futuh Makkah atau penaklukan kota Mekkah. Saya tidak akan membahas sejarahnya secara mendetil, terutama soal waktunya, namun mudah-mudahan ada pelajaran yang kita ambil.
Alkisah saat itu kota Mekkah telah dikepung oleh kaum muslim yang berjumlah sangat banyak, orang-orang Mekkah pun panik melihat hal tersebut. Mereka mengira bahwa hari itu merupakan akhir dari peradaban mereka. Mengapa mereka panik? kata ilmu psikologi, mereka itu terkena penyakt psikologis yang menjalar dalam secara massif yaitu penyakit proyeksi diri. Apa penyakit proyeksi diri itu? Misalnya kalau kita suka membicarakan keburukan orang lain, maka setiap kita melihat orang lain sedang mengobrol, pasti yang ada di fikiran kita bahwa mereka lagi membicarakan keburukan kita. Dengan kata lain,penyakit proyeksi diri adalah prasangka bahwa orang lain akan melakukan sifat buruk yang sering kita lakukan. Ini juga menimpa orang Mekkah, mereka sadar, dulu saat umat muslim berada di Mekkah, mereka sering melakukan hal-hal yang merugikan, menyakiti bahkan mengancam jiwa-jiwa orang muslim. Mereka mengira hal itu pun akan dilakukan kepada mereka oleh kaum muslim pada hari itu. Mereka menyangka bahwa umat Muslim akan membalaskan dendam kesumat atas perbuatan mereka yang lampau. Akhirnya, penduduk Mekkah mengutus Abu Sufyan untuk memastikan apa yang sebenarnya akan umat muslim lakukan terhadap mereka. Lalu Abu Sufyan pergi menuju umat muslim dan di tengah jalan bertemu dengan paman Nabi yang bernama Abbas. Melihat Abu Sufyan, Abbas bertanya, ada apa gerangan dirimu datang kemari wahai Abu Sufyan? saya ingin bertemu Muhammad, kata Abu Sufyan. Ok, saya akan antar engkau, kata Abbas. Nah, di tengah jalan, mereka bertemu dengan Sa'ad Bin Ubadah salah seorang sahabat Nabi juga. Lalu iseng-iseng Abu Sufyan bertanya kepada Sa'ad bin Ubadah, wahai Sa'ad, apa yang akan dilakukan umat muslim nanti saat masuk ke kota Mekkah? Sa'ad menjawab, "Alyauma, yaumul malhamah" hari ini adalah hari pembantaian, kalau diterjemahkan. Nah, Abu Sufyan kaget banget (kalau dalam bahasa sunda soak pisan), dia gemetar mendengar hal itu, tapi dalam hati kecil dia, dia masih berfikir, masak sih Muhammad setega itu? Ah, tidak mungkin Muhammad berbuat seperti itu, dia kan Al Amin? Akhirnya Abbas dan Abu Sufyan melanjutkan perjalanan. Nah, begitu sampai di hadapan Rasulullah, Abu Sufyan mengatakan kepada Nabi, Wahai Muhammad, tadi di tengah perjalanan aku bertemu Sa'ad, dia bilang hari ini adalah hari pembantaian, benarkah itu? Lalu Nabi Muhammad menjawab, "Kadzaba Sa'ad, Al Yauma Yaumul Marhamah", Sa'ad bohong, justru hari ini adalah hari kasih sayang. (inilah kerennya bahasa arab, pembantaian itu malhamah,kasih sayang marhamah, jadi antara dua kata yang bertentangan, cuma beda satu huruf, l dan r). Abu Sufyan tertegun, benarkah wahai Rasulullah? Eh, kamu dikasih tahu gak percaya, swear! kata Rasulullah. Nah, saking senangnya Abu Sufyan ini, beliau langsung saja pergi. Nah lho, Abu Sufyan itu sudah masuk Islam belum? tanya Rasulullah kepada Abbas, belum wahai Rasulullah, kata Abbas. Hhm.. dia kan pembesar Quraisy, gimana ya cara dia supaya masuk Islam? tanya Rasul kepada Abbas. Ah, itu mah gampang wahai Rasulullah (kok ngomongnya jadi kayak sunda ya?) gini aja, Abu Sufyan kan orangnya suka dipuji, suka disanjung, nah kita buat dia di kedudukan yang terhormat! Ok deh! Kata Rasulullah.
Akhirnya, pasukan kaum muslimin memasuki kota Mekkah, Nabi mengatakan, barang siapa yang masuk Masjidil Haram, dia aman. barang siapa yang menutup pintu-pintu rumahnya, dia juga aman, dan barang siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, dia aman. Lalu Rasulullah bertanya terhadap penduduk Mekkah, wahai kalian, tahukah kalian apa yang akan aku lakukan hari ini? Lalu seseorang diantara mereka, Yaa Muhammad, antal kariim, ibnal kariim.. kamu adalah orang mulia, keturunan orang mulia, kami yakin kau tidak akan melakukan balas dendam kepada kami. LaluNabi menjawab, wahai penduduk Mekkah, saksikanlah, aku memberi amnesti kepada kalian semua, kalian semua bebas sekarang! Tidak ada lagi beban diantara kita! Lalu mendengar itu, bergembiralah seluruh penduduk Mekkah, dan nyatalah apa yang telah diramalkan dalam Al Quran. "Idzaa Jaa'a nashrullahi wal fath, Waraaitannaasa yadkhuluuna fiidiinillaahi afwaajaa, Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfir, Innahuu kaana tawaabaa", mendengar amnesti dari Rasulullah, penduduk Mekkah berbondong-bondong masuk Islam (ini bagian paling so sweet nya), tanpa kekerasan, tanpa darah, tapi dengan ketulusan, kerendahan hati dan kasih sayang. Sampai-sampai Ikrimah bin Abu Jahl, karena ketakutan, sebelum peristiwa itu, dia kabur duluan ke sisi laut karena takut akan dibantai, lalu mendengar kabar itu, dia balik lagi dan menyatakan diri masuk Islam, dia pun menjadi periwayat hadits Rasulullah.
Kawan-kawan, ini mungkin satu dari banyak adegan dalam peristiwa futuh Mekkah, namun hikmah yang kita ambil bahwa, ini lho Rasulullah! sangat penuh dengan kasih sayang dan kedamaian. Jadi bohong kalau kita meniru Rasulullah, namun karena sedikit diprovokasi, ini sesat, ini ada konspirasi, lantas kita langsung menyerbu orang-orang yang berbeda keyakinan atau pemahaman dengan kita. (menyambung tulisan "satu Islam banyak pemahaman). Maka pemikiran nyeleneh saya mengatakan, harusnya hari kasih sayang itu bukan hari valentine, tapi namanya "hari muhammad" dan diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Lho, kok Maulid Nabi jadi hari kasih sayang? ya karena kalau kita lihat dengan objektif, sifat dasar Nabi adalah penuh kasih sayang, kalaupun beliau berperang melawan orang kafir secara fisik, itu dikarenakan pembelaan diri saja, bukan karena ambisinya menyebarkan Islam dengan kekerasan. ya kita lihat tadi, siapa coba orang zaman sekarang yang bisa jadi pemaaf melebihi Nabi Muhammad? maka hari kasih sayang adalah hari Muhammad, bukan hari valentine!
Oh iya, satu pemikiran nyeleneh saya mengatakan lagi, bahwa mungkin orang-orang pegadaian suka baca sirah nabi kali ya. Tau kan motto pegadaian? mengatasi masalah tanpa masalah. Nah, peristiwa Futuh Mekkah tadi memberi teladan juga kepada kita bahwa salah satu sifat Rasulullah adalah mengatasi masalah tanpa masalah. Bayangkan kalau saat tiba di Mekkah Rasulullah mengatakan, "Wahai penduduk Mekkah! kalian masih ingat apa yang telah kalian lakukan pada kami dulu? kalian telah kafir kepada Allah, darah kalian halal sekarang untuk aku bunuh! kalau kalian mau masuk Islam, kalian semua aku ampuni, kalau tidak, akan aku buat Mekkah menjadi lautan darah akibat perbuatan kalian!" ih, gak mungkin banget ya Rasulullah mengatakan hal itu, tapi kalaupun iya, mungkin benar penduduk Mekkah akan masuk Islam, namun karena takut, dan di hatinya masih ada dendam kesumat. Ini yang namanya mengatasi masalah dengan membuat masalah baru. Tapi saat Rasul memberi amnesti kepada mereka semua, mereka pun dengan kesadaran sendiri masuk Islam. Dan di hatinya tidak ada dendam karena memang kagum dengan sifat Rasul yang so sweet banget. Buktinya, sampai sekarang belum ada kasus orang-orang musyrik mau merebut kembali mekkah dan madinah.
Yah, menyelesaikan masalah, tanpa masalah.
Bandung, 06 Februari 2012
Alkisah saat itu kota Mekkah telah dikepung oleh kaum muslim yang berjumlah sangat banyak, orang-orang Mekkah pun panik melihat hal tersebut. Mereka mengira bahwa hari itu merupakan akhir dari peradaban mereka. Mengapa mereka panik? kata ilmu psikologi, mereka itu terkena penyakt psikologis yang menjalar dalam secara massif yaitu penyakit proyeksi diri. Apa penyakit proyeksi diri itu? Misalnya kalau kita suka membicarakan keburukan orang lain, maka setiap kita melihat orang lain sedang mengobrol, pasti yang ada di fikiran kita bahwa mereka lagi membicarakan keburukan kita. Dengan kata lain,penyakit proyeksi diri adalah prasangka bahwa orang lain akan melakukan sifat buruk yang sering kita lakukan. Ini juga menimpa orang Mekkah, mereka sadar, dulu saat umat muslim berada di Mekkah, mereka sering melakukan hal-hal yang merugikan, menyakiti bahkan mengancam jiwa-jiwa orang muslim. Mereka mengira hal itu pun akan dilakukan kepada mereka oleh kaum muslim pada hari itu. Mereka menyangka bahwa umat Muslim akan membalaskan dendam kesumat atas perbuatan mereka yang lampau. Akhirnya, penduduk Mekkah mengutus Abu Sufyan untuk memastikan apa yang sebenarnya akan umat muslim lakukan terhadap mereka. Lalu Abu Sufyan pergi menuju umat muslim dan di tengah jalan bertemu dengan paman Nabi yang bernama Abbas. Melihat Abu Sufyan, Abbas bertanya, ada apa gerangan dirimu datang kemari wahai Abu Sufyan? saya ingin bertemu Muhammad, kata Abu Sufyan. Ok, saya akan antar engkau, kata Abbas. Nah, di tengah jalan, mereka bertemu dengan Sa'ad Bin Ubadah salah seorang sahabat Nabi juga. Lalu iseng-iseng Abu Sufyan bertanya kepada Sa'ad bin Ubadah, wahai Sa'ad, apa yang akan dilakukan umat muslim nanti saat masuk ke kota Mekkah? Sa'ad menjawab, "Alyauma, yaumul malhamah" hari ini adalah hari pembantaian, kalau diterjemahkan. Nah, Abu Sufyan kaget banget (kalau dalam bahasa sunda soak pisan), dia gemetar mendengar hal itu, tapi dalam hati kecil dia, dia masih berfikir, masak sih Muhammad setega itu? Ah, tidak mungkin Muhammad berbuat seperti itu, dia kan Al Amin? Akhirnya Abbas dan Abu Sufyan melanjutkan perjalanan. Nah, begitu sampai di hadapan Rasulullah, Abu Sufyan mengatakan kepada Nabi, Wahai Muhammad, tadi di tengah perjalanan aku bertemu Sa'ad, dia bilang hari ini adalah hari pembantaian, benarkah itu? Lalu Nabi Muhammad menjawab, "Kadzaba Sa'ad, Al Yauma Yaumul Marhamah", Sa'ad bohong, justru hari ini adalah hari kasih sayang. (inilah kerennya bahasa arab, pembantaian itu malhamah,kasih sayang marhamah, jadi antara dua kata yang bertentangan, cuma beda satu huruf, l dan r). Abu Sufyan tertegun, benarkah wahai Rasulullah? Eh, kamu dikasih tahu gak percaya, swear! kata Rasulullah. Nah, saking senangnya Abu Sufyan ini, beliau langsung saja pergi. Nah lho, Abu Sufyan itu sudah masuk Islam belum? tanya Rasulullah kepada Abbas, belum wahai Rasulullah, kata Abbas. Hhm.. dia kan pembesar Quraisy, gimana ya cara dia supaya masuk Islam? tanya Rasul kepada Abbas. Ah, itu mah gampang wahai Rasulullah (kok ngomongnya jadi kayak sunda ya?) gini aja, Abu Sufyan kan orangnya suka dipuji, suka disanjung, nah kita buat dia di kedudukan yang terhormat! Ok deh! Kata Rasulullah.
Akhirnya, pasukan kaum muslimin memasuki kota Mekkah, Nabi mengatakan, barang siapa yang masuk Masjidil Haram, dia aman. barang siapa yang menutup pintu-pintu rumahnya, dia juga aman, dan barang siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, dia aman. Lalu Rasulullah bertanya terhadap penduduk Mekkah, wahai kalian, tahukah kalian apa yang akan aku lakukan hari ini? Lalu seseorang diantara mereka, Yaa Muhammad, antal kariim, ibnal kariim.. kamu adalah orang mulia, keturunan orang mulia, kami yakin kau tidak akan melakukan balas dendam kepada kami. LaluNabi menjawab, wahai penduduk Mekkah, saksikanlah, aku memberi amnesti kepada kalian semua, kalian semua bebas sekarang! Tidak ada lagi beban diantara kita! Lalu mendengar itu, bergembiralah seluruh penduduk Mekkah, dan nyatalah apa yang telah diramalkan dalam Al Quran. "Idzaa Jaa'a nashrullahi wal fath, Waraaitannaasa yadkhuluuna fiidiinillaahi afwaajaa, Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfir, Innahuu kaana tawaabaa", mendengar amnesti dari Rasulullah, penduduk Mekkah berbondong-bondong masuk Islam (ini bagian paling so sweet nya), tanpa kekerasan, tanpa darah, tapi dengan ketulusan, kerendahan hati dan kasih sayang. Sampai-sampai Ikrimah bin Abu Jahl, karena ketakutan, sebelum peristiwa itu, dia kabur duluan ke sisi laut karena takut akan dibantai, lalu mendengar kabar itu, dia balik lagi dan menyatakan diri masuk Islam, dia pun menjadi periwayat hadits Rasulullah.
Kawan-kawan, ini mungkin satu dari banyak adegan dalam peristiwa futuh Mekkah, namun hikmah yang kita ambil bahwa, ini lho Rasulullah! sangat penuh dengan kasih sayang dan kedamaian. Jadi bohong kalau kita meniru Rasulullah, namun karena sedikit diprovokasi, ini sesat, ini ada konspirasi, lantas kita langsung menyerbu orang-orang yang berbeda keyakinan atau pemahaman dengan kita. (menyambung tulisan "satu Islam banyak pemahaman). Maka pemikiran nyeleneh saya mengatakan, harusnya hari kasih sayang itu bukan hari valentine, tapi namanya "hari muhammad" dan diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Lho, kok Maulid Nabi jadi hari kasih sayang? ya karena kalau kita lihat dengan objektif, sifat dasar Nabi adalah penuh kasih sayang, kalaupun beliau berperang melawan orang kafir secara fisik, itu dikarenakan pembelaan diri saja, bukan karena ambisinya menyebarkan Islam dengan kekerasan. ya kita lihat tadi, siapa coba orang zaman sekarang yang bisa jadi pemaaf melebihi Nabi Muhammad? maka hari kasih sayang adalah hari Muhammad, bukan hari valentine!
Oh iya, satu pemikiran nyeleneh saya mengatakan lagi, bahwa mungkin orang-orang pegadaian suka baca sirah nabi kali ya. Tau kan motto pegadaian? mengatasi masalah tanpa masalah. Nah, peristiwa Futuh Mekkah tadi memberi teladan juga kepada kita bahwa salah satu sifat Rasulullah adalah mengatasi masalah tanpa masalah. Bayangkan kalau saat tiba di Mekkah Rasulullah mengatakan, "Wahai penduduk Mekkah! kalian masih ingat apa yang telah kalian lakukan pada kami dulu? kalian telah kafir kepada Allah, darah kalian halal sekarang untuk aku bunuh! kalau kalian mau masuk Islam, kalian semua aku ampuni, kalau tidak, akan aku buat Mekkah menjadi lautan darah akibat perbuatan kalian!" ih, gak mungkin banget ya Rasulullah mengatakan hal itu, tapi kalaupun iya, mungkin benar penduduk Mekkah akan masuk Islam, namun karena takut, dan di hatinya masih ada dendam kesumat. Ini yang namanya mengatasi masalah dengan membuat masalah baru. Tapi saat Rasul memberi amnesti kepada mereka semua, mereka pun dengan kesadaran sendiri masuk Islam. Dan di hatinya tidak ada dendam karena memang kagum dengan sifat Rasul yang so sweet banget. Buktinya, sampai sekarang belum ada kasus orang-orang musyrik mau merebut kembali mekkah dan madinah.
Yah, menyelesaikan masalah, tanpa masalah.
Bandung, 06 Februari 2012

Posting Komentar untuk "Futuh"