Akhir-akhir ini, rasa kemanusiaan kita sangat terusik dengan beberapa kejadian. Salah satunya adalah diskriminasi bahkan berujung pembantaian kaum Muslim Rohingya di Negara Myanmar. Konon yang melakukan pembantaian tersebut adalah umat Buddha yang menjadi mayoritas warga Myanmar. Media-media Islam seperti voa-islam.com dan arrahmah.com menggambarkan peristiwa ini sebagai konflik Islam vs. Buddha yang berarti agama vs. agama. Benarkah demikian?
Tentu peristiwa ini membuat umat Muslim diizinkan untuk berjihad dalam artian perang dalam rangka membela diri (22:39). Dalam hal pembelaan diri, agama memberi legalitas untuk melakukan kekerasan dengan tidak melampaui batas (2:190). Pada akhirnya perdamaian menjadi pilihan yang terbaik (2:114). Lalu kita pun yang berada di negara muslim yang aman harus mempunyai rasa simpati dan prihatin terhadap penderitaan saudara-saudara kita nun jauh disana. Rasulullah pernah bersabda bahwa Umat Islam itu seperti satu jasad, apabila sakit satu bagian, maka bagian lainnya pun akan merasakan sakit. Solidaritas tersebut dapat diwujudkan dengan doa, aksi ke Kedubes Myanmar atau pengumpulan donasi untuk saudara-saudara kita di sana. Yang jelas masalah ini bukan hanya masalah umat Islam, tapi masalah kemanusiaan pada umumnya. Ironis tatkala negara maju yang berteriak-teriak soal HAM, namun diam melihat pelanggaran HAM berat ini.
Mengenai orang Buddha ini, saya teringat sewaktu kecil ada sebuah film berjudul Kera Sakti. Film ini kental sekali dengan religi Buddha, di sana diceritakan mengenai perjalanan seorang biksu bersama makhluk-makhluk aneh mencari kitab suci. Biksu ini sebagai seorang rohaniawan Buddha mempunyai sifat yang sangat lemah lembut dan welas asih. Sebagai orang yang taat agama Buddha, biksu ini pun arif, bijaksana dan penyayang terhadap semua makhluk. Melihat peristiwa di Myanmar tadi, saya menjadi ragu, apakah memang ajaran Buddha mengajarkan kekerasan bahkan pembantaian? Ataukah ada hal lain yang terjadi di balik peristiwa ini?
Sejujurnya saya belum pernah punya teman atau membaca ajaran-ajaran umat Buddha. Tapi yang saya yakini adalah bahwa pembantaian yang menimpa umat Islam di Myanmar merupakan perilaku orang-orang yang tak bermoral, beradab dan berperikemanusiaan. Hanya kebetulan mereka beragama Buddha atau kebetulan ayah ibu mereka beragama Buddha.Kalau di Indonesia ada istilah Islam KTP, maka mungkin mereka layak disebut Buddha KTP atau Buddha abangan. Kita lihat gambaran orang Buddha yang taat seperti biksu tadi, welas asih, anti kekerasan, penyayang pada semua makhluk dan bijaksana. Tentu sangat kontras dengan perilaku tak beradab yang dilakukan sebagian manusia yang kebetulan KTP nya bertuliskan Buddha, padahal agama mereka sesungguhnya adalah hawa nafsu (45:23). Maka kita harus jeli saat melihat konflik yang kebetulan melibatkan agama yang berbeda. Secara lahir yang terlihat adalah konflik antar agama, namu siapa tahu ternyata yang menjadi penyebab awal adalah sengketa tanah, atau perebutan pelanggan bisnis, atau perebutan jabatan kepala desa misalnya. Motif-motif social, politik dan ekonomi sangat mungkin menjadi penyebab utama konflik tersebut terjadi. Jarang sekali yang murni bermotif agama, dikarenakan ajaran agama lebih banyak memerintahkan perilaku santun disbanding kekerasan.
Muncul pertanyaan, kenapa saya seolah-olah membela agama lain padahal saya seorang muslim? Saya tidak hanya membela satu agama, saya membela eksistensi agama dan hakikat agama itu sendiri. Bagi saya agama adalah petunjuk agar manusia hidup damai menjadi khalifah fil ardh (2:30) Agama adalah petunjuk Tuhan yang apabila diikuti maka tidak ada ketakutan dan tidak ada kesedihan (2:38). Lantas apa yang menyebabkan kerusakan, pertumpahan darah, ketakutan dan kesedihan ada di muka bumi ini? Jawabannya tak lain tak bukan adalah hawa nafsu. Hawa nafsu ini menjelma menjadi kepentingan dan ambisi untuk menguasai satu sama lain, untuk saling menunjukan eksistensi diri, untuk berebut hal-hal yang bersifat duniawi, dan hal-hal yang rendah lain. Sayangnya, saat hal-hal seperti ini dibungkus oleh baju agama, dihiasi oleh ayat-ayat yang ditafsirkan seolah-olah mendukungnya, agama menjadi kehilangan fungsi utamanya sebagai pemecah pelbagai masalah dalam masyarakat. Agama seolah-olah hanya menjadi ajang untuk berlomba-lomba memperbanyak pengikut, ajang untuk berlomba-lomba berebut pengaruh dalam masyarakat, bahkan dalam satu agama pun masing-masing golongan berusaha memperebutkan siapa yang paling berhak menafsirkan agama tersebut. Memang hal tersebut adalah sesuatu yang tak mungkin dihindari. Hal tersebut juga menjadi dinamika yang baik dalam beragama asalkan dilandasi dengan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan (2:148). Tentu fastabiqul khairat di sini tidak hanya difahami dengan berlomba siapa yang paling banyak pengikutnya, atau siapa yang paling banyak membangun rumah ibadah. Berlomba dalam kebaikan di sini adalah berlomba siapa yang paling banyak berbuat ishlah untuk Tuhan, manusia dan alam.
Lantas bagaimana dengan konsep dakwah dimana setiap agama diharuskan mengajak manusia untuk memasukinya? (kecuali agama Yahudi yang ekslusif).Tentu ini pun termasuk dari berlomba-lomba dalak kebaikan tadi. Dakwah adalah kebaikan saat dilakukan dengan cara yang baik pula. Dakwah yang baik bukanlah membagi-bagi Indomie atau sembako kemudian diajak untuk ke tempat ibadah. Bukan pula ceramah-ceramah alakadarnya yang tak terkonsep dan hanya membuat ngantuk. Dakwah yang baik adalah menginternalisasikan nilai-nilai luhur agama kepada masyarakat. Lalu turut serta membangun pendidikan, perekonomian dan karakter masyarakat. Dakwah yang seperti ini akan membuat agama menjadi rahmat bagi semesta alam. Keberadaan agama akan menjadi pemecah berbagai macam masalah, bukan malah menjadi bagian dari masalah itu sendiri.
Tentu peristiwa ini membuat umat Muslim diizinkan untuk berjihad dalam artian perang dalam rangka membela diri (22:39). Dalam hal pembelaan diri, agama memberi legalitas untuk melakukan kekerasan dengan tidak melampaui batas (2:190). Pada akhirnya perdamaian menjadi pilihan yang terbaik (2:114). Lalu kita pun yang berada di negara muslim yang aman harus mempunyai rasa simpati dan prihatin terhadap penderitaan saudara-saudara kita nun jauh disana. Rasulullah pernah bersabda bahwa Umat Islam itu seperti satu jasad, apabila sakit satu bagian, maka bagian lainnya pun akan merasakan sakit. Solidaritas tersebut dapat diwujudkan dengan doa, aksi ke Kedubes Myanmar atau pengumpulan donasi untuk saudara-saudara kita di sana. Yang jelas masalah ini bukan hanya masalah umat Islam, tapi masalah kemanusiaan pada umumnya. Ironis tatkala negara maju yang berteriak-teriak soal HAM, namun diam melihat pelanggaran HAM berat ini.
Mengenai orang Buddha ini, saya teringat sewaktu kecil ada sebuah film berjudul Kera Sakti. Film ini kental sekali dengan religi Buddha, di sana diceritakan mengenai perjalanan seorang biksu bersama makhluk-makhluk aneh mencari kitab suci. Biksu ini sebagai seorang rohaniawan Buddha mempunyai sifat yang sangat lemah lembut dan welas asih. Sebagai orang yang taat agama Buddha, biksu ini pun arif, bijaksana dan penyayang terhadap semua makhluk. Melihat peristiwa di Myanmar tadi, saya menjadi ragu, apakah memang ajaran Buddha mengajarkan kekerasan bahkan pembantaian? Ataukah ada hal lain yang terjadi di balik peristiwa ini?
Sejujurnya saya belum pernah punya teman atau membaca ajaran-ajaran umat Buddha. Tapi yang saya yakini adalah bahwa pembantaian yang menimpa umat Islam di Myanmar merupakan perilaku orang-orang yang tak bermoral, beradab dan berperikemanusiaan. Hanya kebetulan mereka beragama Buddha atau kebetulan ayah ibu mereka beragama Buddha.Kalau di Indonesia ada istilah Islam KTP, maka mungkin mereka layak disebut Buddha KTP atau Buddha abangan. Kita lihat gambaran orang Buddha yang taat seperti biksu tadi, welas asih, anti kekerasan, penyayang pada semua makhluk dan bijaksana. Tentu sangat kontras dengan perilaku tak beradab yang dilakukan sebagian manusia yang kebetulan KTP nya bertuliskan Buddha, padahal agama mereka sesungguhnya adalah hawa nafsu (45:23). Maka kita harus jeli saat melihat konflik yang kebetulan melibatkan agama yang berbeda. Secara lahir yang terlihat adalah konflik antar agama, namu siapa tahu ternyata yang menjadi penyebab awal adalah sengketa tanah, atau perebutan pelanggan bisnis, atau perebutan jabatan kepala desa misalnya. Motif-motif social, politik dan ekonomi sangat mungkin menjadi penyebab utama konflik tersebut terjadi. Jarang sekali yang murni bermotif agama, dikarenakan ajaran agama lebih banyak memerintahkan perilaku santun disbanding kekerasan.
Muncul pertanyaan, kenapa saya seolah-olah membela agama lain padahal saya seorang muslim? Saya tidak hanya membela satu agama, saya membela eksistensi agama dan hakikat agama itu sendiri. Bagi saya agama adalah petunjuk agar manusia hidup damai menjadi khalifah fil ardh (2:30) Agama adalah petunjuk Tuhan yang apabila diikuti maka tidak ada ketakutan dan tidak ada kesedihan (2:38). Lantas apa yang menyebabkan kerusakan, pertumpahan darah, ketakutan dan kesedihan ada di muka bumi ini? Jawabannya tak lain tak bukan adalah hawa nafsu. Hawa nafsu ini menjelma menjadi kepentingan dan ambisi untuk menguasai satu sama lain, untuk saling menunjukan eksistensi diri, untuk berebut hal-hal yang bersifat duniawi, dan hal-hal yang rendah lain. Sayangnya, saat hal-hal seperti ini dibungkus oleh baju agama, dihiasi oleh ayat-ayat yang ditafsirkan seolah-olah mendukungnya, agama menjadi kehilangan fungsi utamanya sebagai pemecah pelbagai masalah dalam masyarakat. Agama seolah-olah hanya menjadi ajang untuk berlomba-lomba memperbanyak pengikut, ajang untuk berlomba-lomba berebut pengaruh dalam masyarakat, bahkan dalam satu agama pun masing-masing golongan berusaha memperebutkan siapa yang paling berhak menafsirkan agama tersebut. Memang hal tersebut adalah sesuatu yang tak mungkin dihindari. Hal tersebut juga menjadi dinamika yang baik dalam beragama asalkan dilandasi dengan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan (2:148). Tentu fastabiqul khairat di sini tidak hanya difahami dengan berlomba siapa yang paling banyak pengikutnya, atau siapa yang paling banyak membangun rumah ibadah. Berlomba dalam kebaikan di sini adalah berlomba siapa yang paling banyak berbuat ishlah untuk Tuhan, manusia dan alam.
Lantas bagaimana dengan konsep dakwah dimana setiap agama diharuskan mengajak manusia untuk memasukinya? (kecuali agama Yahudi yang ekslusif).Tentu ini pun termasuk dari berlomba-lomba dalak kebaikan tadi. Dakwah adalah kebaikan saat dilakukan dengan cara yang baik pula. Dakwah yang baik bukanlah membagi-bagi Indomie atau sembako kemudian diajak untuk ke tempat ibadah. Bukan pula ceramah-ceramah alakadarnya yang tak terkonsep dan hanya membuat ngantuk. Dakwah yang baik adalah menginternalisasikan nilai-nilai luhur agama kepada masyarakat. Lalu turut serta membangun pendidikan, perekonomian dan karakter masyarakat. Dakwah yang seperti ini akan membuat agama menjadi rahmat bagi semesta alam. Keberadaan agama akan menjadi pemecah berbagai macam masalah, bukan malah menjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Posting Komentar untuk "Rohingya"