Keberagama(a)n

Semasa kecil, penulis telah diperkenalkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Agama, khususnya dengan agama yang dipeluk sampai hari ini, Islam. Bagaimana tidak, semenjak TK orang tua memasukan penulis ke pengajian pada sore hari. Lalu sekolah formal penulis pun dimiliki oleh salah satu ormas yang berlatar belakang agama. Hal tersebut semakin mantap manakala menginjak remaja dimasukan ke sebuah pesantren. Masa remaja yang biasanya bersenang-senang menikmati dunia, dihabiskan di sebuah tempat pendidikan calon-calon ulama. Begitulah kenapa hingga hari ini penulis begitu akrab dan intim terhadap persoalan keagamaan. Sempat ada kecurigaan bahwa memang hal ini disebabkan pula oleh bakat alam, karena banyak kawan-kawan di pesantren yang malah kesulitan untuk akrab dengan pengetahuan agama. Entahlah, hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Saat kecil, bagi penulis agama itu ya sederhana saja, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan akidah, tata cara ibadah, dan akhlakul karimah. Saat kecil mulailah diperkenalkan dengan istilah-istilah surga, neraka, akhirat, setan, malaikat, rukun iman, hari kiamat dll. Itulah yang penulis tahu menjadi hal-hal mendasar dari ajaran agama Islam yang disebut dengan akidah. Tentu hal tersebut menjadi sesuatu yang diyakini hingga sekarang karena merupakan doktrin pokok yang membedakan orang beragama dengan yang tidak beragama atau bahkan tidak berTuhan. Lalu pak ustadz pun mengajari tata cara wudhu, sholat, puasa, manasik haji dll. Hal itu yang belakangan penulis tahu bahwa namanya adalah fiqh. Yang jelas pada waktu itu ada keyakinan bahwa hal tersebut akan menambah pahala yang diberikan Tuhan pada kita. Kalau kita punya banyak pahala, maka kita akan masuk surga yang katanya nikmat tiada terkira. Sedangkan kalau pahala kita sedikit, malah membuat dosa karena meninggalkan hal yang tadi, maka kita akan dijebloskan ke neraka yang sangat panas. Lalu penulis pun diajari bahwa sesama manusia harus saling mengasihi, tidak boleh sombong, harus rendah hati, tidak boleh bohong, harus jujur, tidak boleh nakal, harus baik dll. Lagi-lagi yang dijanjikan adalah surga kalau melakukannya, dan neraka kalau meninggalkannya. Hal-hal inilah yang penulis tahu hari ini bernama akhlakul karimah. Memang sebagian besar substansinya sama dengan pelajaran PPKn saat SD, namun entah kenapa pelajaran di pengajian lebih mengena dibanding di sekolah. Akhlak ini juga yang menjadi panduan bagaimana penulis harus bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya dalam pelaksanaannya, masih jauh dari sempurna, sampai hari ini penulis masih belajar untuk menjadi lebih baik dan baik lagi.

Begitulah pemahaman agama penulis yang sederhana semasa kecil. Datar, sederhana dan nyaman. Saat itu penulis belum mengenal kata sesat, atau kafir kecuali untuk non-muslim. Penulis juga belum mengenal kata bid’ah, firqah atau mazhab. Pada waktu itu anggapan penulis adalah bahwa agama merupakan sesuatu yang mendamaikan bagi pemeluknya, tidak ada kebencian, saling mencaci apalagi mengkafirkan antar sesama muslim. Namun takdir berkata lain, seiring dengan perkembangan intelektual penulis, dan terbukanya akses keilmuan yang lebih luas, penulis menemukan bahwa ternyata agama tidak sesederhana yang dibayangkan. Memang sejak dulu penulis sudah mengenal Muhammadiyah, PERSIS, dan NU. Tapi penulis menemukan bahwa 3 nama ini terkadang saling berbantahan baru ketika di pesantren. Untungnya penulis hidup di masa ketiga organisasi ini telah tuntas melewati masa pubernya, sehingga penulis tidak menemukan tidak menemukan gejolak yang berarti dalam hubungan ketiga organisasi ini. Paling di pesantren penulis sering diajarkan bahwa Muhammadiyah lebih kuat dalam mengambil dalil dibanding dua organisasi lain. Ya penulis menganggap hal itu wajar mengingat memang pesantren ini bertujuan mencetak kader Muhammadiyah masa depan. Penulis yakin di pesantren yang mencetak kader NU atau PERSIS akan mengajarkan bahwa pemahaman mereka lebih kuat dari pemahaman yang lain. Kata “lebih kuat” ini mengindikasikan bahwa para ustadz masih mengakui dan tidak menegasikan pemahaman yang lain. Maksudnya masih menghargai pendapat lain. Lalu memang hubungan social antara ketiga ormas Islam tertua di Indonesia ini cukup harmonis. Entahlah, namun sepertinya ketiga ormas ini bisa belajar dari sejarah bahwa cape berantem terus. Ditambah bahwa konflik bukanlah kultur bangsa Indonesia. Kultur bangsa Indonesia adalah gotong royong, toleransi dan ramah tamah terhadap sesama, adapun yang masih suka konflik adalah masyarakat di suku pedalaman seperti di daerah Papua. Hal ini dikarenakan memang Tuhan telah menakdirkan bahwa Nusantara ini selain kaya dengan sumber daya alam juga kaya dengan kemajemukan suku, bahasa dan budaya. Berbeda halnya dengan di timur tengah yang tidak semajemuk Indonesia.

Lalu tibalah suatu hari saat penulis shalat ke masjid, ada orang berpakaian gamis, sorban seperti ustadz mengajak penulis I’tikaf ke sebuah masjid. Waktu itu kelas 1 SMA penulis masih sangat lugu soal ini. Minta izinlah penulis ke orang tua, ayah sepertinya tidak terlalu masalah, namun ibu sepertinya khawatir. Lalu pergilah penulis dengan motor orang tersebut ke sebuah masjid di daerah yang tidak jauh dari rumah. Sesampainya di masjid itu, penulis bertemu dengan orang-orang yang berpenampilan serupa dengan ustadz tadi. Wih, mereka semua alim-alim, kata-kata yang keluar dari mulut mereka ada saja kalimat thayibahnya, tahajud setiap hari, dan saling mengajarkan satu sama lain dengan kitab fadhail amal andalan mereka. Retorika mereka juga bagus, orang awam pasti terpengaruh oleh perkataan mereka. Saat penulis bertanya, ini organisasi apa sih? Mereka keukeuh bahwa mereka bukanlah organisasi, mereka pokoknya hanya meneruskan risalah Rasulullah saw. mereka tinggal di masjid, masak dimesjid, dan berpindah-pindah masjid. Belakangan penulis tahu bahwa masyarakat menyebut mereka jamaah tabligh. Namun saat ngobrol-ngobrol dengan mereka, ada satu kelompok yang sepertinya mereka kurang suka. Hal ini dikarenakan kelompok ini sering membid’ahkan mereka, mereka menyebut kelompok ini salafi.

Setelah pulang ke rumah, ibu tetap khawatir, soalnya beberapa waktu sebelum itu, dia menonton berita bahwa ada anak SMA yang tidak pulang-pulang karena dibawa oleh orang-orang yang berpenampilan seperti itu. Namun ayah tenang-tenang saja, karena dia sudah tahu sebelumnya orang-orang yang mengajak penulis itu. Ayah penulis tidak pernah melarang-larang penulis dalam hal-hal seperti ini. Mungkin dia ingin penulis mendapat pengalaman lebih. Walaupun setelahnya penulis diberi pengertian baik dan buruknya jamaah ini.

Sampai suatu ketika, penulis membuka laptop kepunyaan ayah, disana banyak e-book yang penulis tahu berisi pemikiran-pemikiran dari gerakan transnasional. Salah satunya ada yang judulnya “memahami jamaah tabligh”, ternyata e-book itu adalah tulisan ustadz salafi dan didalamnya membongkar keburukan-keburukan jamaah tabligh. Ada rasa aneh, jamaah yang penulis kira sangat baik ternyata ada saja yang tidak suka. Yang tidak suka ini sama-sama kelihatan baik dan alim juga. Lalu mulai deh penulis iseng mencari di google, wih tambah kaget lagi, ternyata di sebuah blog JT dan salafi saling menghujat, bahkan sampai dengan kata-kata kasar. Inilah permulaan penulis berkenalan dengan perbedaan dan keragaman faham agama dalam Islam. Oh, ternyata Islam ini tidak sesederhana yang penulis kira sewaktu kecil. Lucu ya, saat kecil dalam bayangan penulis, yang akan selalu bertarung adalah seorang kyai dengan preman, yang baik dengan yang buruk. Setelah melihat hal tersebut, ternyata dugaan penulis tidak selamanya benar, ternyata dua orang kyai pun bisa berseteru dalam memperebutkan siapa yang lebih benar.

Setelah itu, banyak-banyaklah penulis mencari-cari di internet hal-hal yang berbau perseteruan antar golongan dalam agama Islam. Ternyata lebih banyak lagi, kawan-kawan tarbiyah dengan HTI, aswaja dengan wahabi, fundamentalis dengan liberalis, dll. Entah kenapa Tuhan menakdirkan penulis untuk mengenal hal-hal seperti ini. Walaupun hikmahnya penulis bisa lebih mendalam dalam berIslam, namun kadang penulis bertanya kepada diri sendiri, kenapa tidak ditakdirkan seperti orang lain saja yang memahami agama secara sederhana? Bagi yang belum sempat mengenal kelompok-kelompok ini, iman dan amal shaleh cukup untuk mengantarkan kalian ke surga. Sedangkan yang sudah mengenal, mau tidak mau ada beban untuk bisa membandingkan mana yang lebih benar dibanding yang lain.

Tibalah di fase berikutnya, dimana penulis sudah beranjak meninggalkan masa remaja dan mulai memasuki masa dewasa awal. Pada masa ini, penulis mendapatkan wawasan yang lebih luas dan mendalam karena kebiasaan penulis yang senang membaca apapun. Penulis tidak pernah diajarkan oleh ayah agar membaca suatu buku dan jangan membaca suatu buku. Yang diajarkan hanya bacalah, bahkan kalau setan membuat buku mungkin penulis akan membacanya juga. Hal inilah yang membuat penulis tidak terjebak dalam satu pemahaman diantara pemahaman tadi. Hal ini juga yang membuat penulis tidak terjebak pada aspek legal formal agama an sich. Penulis lebih mampu melihat aspek substansial dari agama itu sendiri, yakni sebagai rahmatan lil alamin.

Pada fase ini penulis telah mengkhatamkan masa-masa puber dalam beragama, dimana penulis merasa benar sendiri yang lain salah. Dimana penulis tidak mau mendengarkan orang lain karena pendapat mereka tidak lebih dari sampah. Dimana yang diperjuangkan penulis adalah sesuatu yang berupa bungkus saja namun lupa kepada isi. Akhirnya, ada perasaan miris melihat orang yang berjuang mati-matian mempertahankan pendapatnya, namun di sisi lain lupa terhadap permasalah social di sekitarnya. Ada perasaan kecewa melihat orang yang dari sisi penampilan dan ritual agamis, namun melakukan perbuatan yang jauh dari akhlakul karimah seperti korupsi. Ada perasaan geram melihat agama hanya dijadikan bungkus bagi ambisi politik jangka pendek dan banyak perasaan-perasaan lain yang bernada menggugat perilaku keberagamaan yang terjadi pada masa ini. Penulis malah merindukan masa kecil penulis dimana agama adalah sesuatu yang sederhana yang berupa akidah, ibadah dan akhlak. Saat agama adalah semangat untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dan memberi manfaat bagi sesama. Bukan berlomba-lomba untuk menghujat dan menjatuhkan satu sama lain dengan semangat homo homini lupus. Entahlah, ini hanya salah satu fase keberagamaan penulis dan belum selesai. Setelah ini ada fase-fase lain yang pasti akan dilalui. Yang penting penulis tidak akan pernah berhenti membaca baik buku, fenomena alam dan fenomena social sampai Izrail menjemput. Berhenti membaca berarti menceburkan diri ke dalam kesesatan yang nyata.

Bandung, 14 Agustus 2012

Posting Komentar untuk "Keberagama(a)n"