Setiap agama itu punya sifat missionaris, artinya ingin membawa agama lain menjadi pengikutnya, dan tidak suka apabila pengikut agamanya berpindah keyakinan. Inilah unsur ekslusifitas agama yang harus dihargai, karena tanpa unsur ekslusifitas ini, maka agama tidak akan berumur panjang. Tinggal bagaimana sifat missionaris dalam setiap agama ini dikelola sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan konflik. Harus ada kode etik universal bagi agama-agama dalam mendakwahkan agamanya masing-masing.
Dalam setiap kitab suci agama-agama samawi, saya yakin selalu ada ayat tentang perang dan pembunuhan. Namun selain itu, ada juga ayat-ayat tentang sikap welas asih terhadap sesama. Hendaknya tidak sembarangan memahami ayat-ayat Tuhan ini, karena salah memahami, apalagi tercampur dengan kepentingan duniawi, bisa-bisa pertumpahan darah yang terjadi. Padahal dulu malaikat yang biasanya taat dan manut saja terhadap perintah Allah, tiba-tiba sedikit nakal dengan bertanya kepada-Nya, "Apakah Engkau menciptakan di bumi makhluk yang merusak dan menumpahkan darah?". Tentu Allah Maha Tahu, Allah memberi potensi pertumpahan darah dengan memberi hawa nafsu, namun di sisi lain Allah memberi potensi manusia untuk menjadi khalifah dengan akalnya.
Tapi tentu Iblis tidak tinggal diam, dia sudah bersumpah untuk menyesatkan manusia selama-lamanya. Ia ingin membuktikan bahwa dugaan malaikat itu benar, bahwa manusia memang akan merusak dan menumpahkan darah. Hal itu dibuktikan pertama kali kepada Qabil yang membunuh saudaranya Habil. Akhirnya, sifat-sifat Qabil ini terwarisi kepada sebagian manusia, dengki dengan selainnya, ingin merampas apa yang tidak dimilikinya.
Untuk konflik yang terjadi akhir-akhir ini, atau yang telah lalu, tinggal kita lihat, siapa yang memulainya. Maka dialah pengikut Iblis, dia telah mengkhianati MoU kekhalifahan yang telah diberikan Tuhan hanya karena ambisi sesaatnya. Adapun bagi yang merasa terlibat dalam konflik dalam rangka membela diri, maka dia adalah korban seperti hal nya Habil yang wajib dilindungi dan dibela. Saat mereka melawan, perlawanannya bukan sebuah terorisme, melainkan upaya memerdekakan diri dari penindasan, sebagaimana bangsa kita saat melawan penjajah dahulu.
Saya yakin setiap agama itu punya potensi konflik dan sikap welas asih. Namun Iblis tidak akan tenang kalau dunia ini damai-damai saja. Akhirnya dia membisikan kepada orang yang fanatik terhadap suatu agama agar fanatisme itu digunakan untuk membunuh orang yang tidak seagama, merebut tanah orang lain karena dianggap tanah yang dijanjikan dengan embel-embel pahala yang sebenarnya semu. Namun di balik itu, saya yakin bahwa di setiap agama, masih ada orang-orang yang mengikuti fithrah kemanusiaannya. Beragama dalam rangka menjadi khalifah, menebar sikap welas asih terhadap sesama.
Berikut ini petikan beberapa ayat dari kitab talmud, kitabnya zionis yahudi “Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” “Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagi budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” “Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” “Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahan lebih daripada babi yang sakit.” Kalau saya jadi orang yahudi, saya akan bilang kepada rabbi yahudi untuk merevisi ayat-ayat seperti ini.. karena hanya menjadi anti-tesis dari perdamaian dunia.. Atau kalau pemikiran itu terlalu ekstrem, minimal saya akan meminta para rabbi untuk menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan metode hermeneutika, supaya bisa ditafsirkan secara lebih humanis.. biarin deh saya di cap sebagai yahudi liberal oleh para ekstremis yahudi, dihalalkan darahnya, atau dimaki-maki dengan kata-kata yang tidak pantas karena mereka merasa harga diri agama mereka dinodai.
Terkadang saya punya ide gila, sudah saja bumi ini dibagi menjadi 2 wilayah, wilayah damai dan wilayah perang. Wilayah perang diperuntukan bagi yang fanatik terhadap satu agama, namun fanatismenya melahirkan kebencian terhadap yang lain. Wilayah damai diperuntukan bagi yang fanatik juga terhadap agama, namun fanatismenya dimanifestasikan dalam rangka berlomba-lomba dalam kebaikan. Berlomba-lomba siapa agama yang paling banyak membuat perbaikan di bumi. Biarkan yang hobi perang dengan perangnya. Yang cinta damai dengan suasana damainya. Jangan seperti sekarang, berapa banyak anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban, perempuan-perempuan menjadi janda, atau para lelaki menjadi duda. Kan tidak adil, kalau mau perang gentle donk, tentara lawan tentara. Kalau tentara lawan rakyat sipil, namanya bukan perang, namanya genosida. Futsal Antar Kampung saja masih punya aturan kok, ini yang katanya negara beradab dan menjunjung HAM tapi seenaknya.
Akhir kata, saya hanya bisa berdoa sebagaimana yang kita selalu panjatkan sehabis shalat. Allahumma Anta As Salaam (Ya Allah, Engkaulah yang Maha Damai), Wa minka As Salaam (Dan dari Engkaulah perdamaian) Failaika Ya'uudu As Salaam (Maka kepadaMu damai akan kembali) Tabaarakta Rabbanaa Yaa Dzal Jalaali Wal Ikraam (Maha Suci Engkau Wahai Tuhan Kami Wahai yang mempunyai kemuliaan)
Aamiin..
Bogor, 21 November 2012
Dalam setiap kitab suci agama-agama samawi, saya yakin selalu ada ayat tentang perang dan pembunuhan. Namun selain itu, ada juga ayat-ayat tentang sikap welas asih terhadap sesama. Hendaknya tidak sembarangan memahami ayat-ayat Tuhan ini, karena salah memahami, apalagi tercampur dengan kepentingan duniawi, bisa-bisa pertumpahan darah yang terjadi. Padahal dulu malaikat yang biasanya taat dan manut saja terhadap perintah Allah, tiba-tiba sedikit nakal dengan bertanya kepada-Nya, "Apakah Engkau menciptakan di bumi makhluk yang merusak dan menumpahkan darah?". Tentu Allah Maha Tahu, Allah memberi potensi pertumpahan darah dengan memberi hawa nafsu, namun di sisi lain Allah memberi potensi manusia untuk menjadi khalifah dengan akalnya.
Tapi tentu Iblis tidak tinggal diam, dia sudah bersumpah untuk menyesatkan manusia selama-lamanya. Ia ingin membuktikan bahwa dugaan malaikat itu benar, bahwa manusia memang akan merusak dan menumpahkan darah. Hal itu dibuktikan pertama kali kepada Qabil yang membunuh saudaranya Habil. Akhirnya, sifat-sifat Qabil ini terwarisi kepada sebagian manusia, dengki dengan selainnya, ingin merampas apa yang tidak dimilikinya.
Untuk konflik yang terjadi akhir-akhir ini, atau yang telah lalu, tinggal kita lihat, siapa yang memulainya. Maka dialah pengikut Iblis, dia telah mengkhianati MoU kekhalifahan yang telah diberikan Tuhan hanya karena ambisi sesaatnya. Adapun bagi yang merasa terlibat dalam konflik dalam rangka membela diri, maka dia adalah korban seperti hal nya Habil yang wajib dilindungi dan dibela. Saat mereka melawan, perlawanannya bukan sebuah terorisme, melainkan upaya memerdekakan diri dari penindasan, sebagaimana bangsa kita saat melawan penjajah dahulu.
Saya yakin setiap agama itu punya potensi konflik dan sikap welas asih. Namun Iblis tidak akan tenang kalau dunia ini damai-damai saja. Akhirnya dia membisikan kepada orang yang fanatik terhadap suatu agama agar fanatisme itu digunakan untuk membunuh orang yang tidak seagama, merebut tanah orang lain karena dianggap tanah yang dijanjikan dengan embel-embel pahala yang sebenarnya semu. Namun di balik itu, saya yakin bahwa di setiap agama, masih ada orang-orang yang mengikuti fithrah kemanusiaannya. Beragama dalam rangka menjadi khalifah, menebar sikap welas asih terhadap sesama.
Berikut ini petikan beberapa ayat dari kitab talmud, kitabnya zionis yahudi “Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” “Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagi budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” “Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” “Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahan lebih daripada babi yang sakit.” Kalau saya jadi orang yahudi, saya akan bilang kepada rabbi yahudi untuk merevisi ayat-ayat seperti ini.. karena hanya menjadi anti-tesis dari perdamaian dunia.. Atau kalau pemikiran itu terlalu ekstrem, minimal saya akan meminta para rabbi untuk menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan metode hermeneutika, supaya bisa ditafsirkan secara lebih humanis.. biarin deh saya di cap sebagai yahudi liberal oleh para ekstremis yahudi, dihalalkan darahnya, atau dimaki-maki dengan kata-kata yang tidak pantas karena mereka merasa harga diri agama mereka dinodai.
Terkadang saya punya ide gila, sudah saja bumi ini dibagi menjadi 2 wilayah, wilayah damai dan wilayah perang. Wilayah perang diperuntukan bagi yang fanatik terhadap satu agama, namun fanatismenya melahirkan kebencian terhadap yang lain. Wilayah damai diperuntukan bagi yang fanatik juga terhadap agama, namun fanatismenya dimanifestasikan dalam rangka berlomba-lomba dalam kebaikan. Berlomba-lomba siapa agama yang paling banyak membuat perbaikan di bumi. Biarkan yang hobi perang dengan perangnya. Yang cinta damai dengan suasana damainya. Jangan seperti sekarang, berapa banyak anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban, perempuan-perempuan menjadi janda, atau para lelaki menjadi duda. Kan tidak adil, kalau mau perang gentle donk, tentara lawan tentara. Kalau tentara lawan rakyat sipil, namanya bukan perang, namanya genosida. Futsal Antar Kampung saja masih punya aturan kok, ini yang katanya negara beradab dan menjunjung HAM tapi seenaknya.
Akhir kata, saya hanya bisa berdoa sebagaimana yang kita selalu panjatkan sehabis shalat. Allahumma Anta As Salaam (Ya Allah, Engkaulah yang Maha Damai), Wa minka As Salaam (Dan dari Engkaulah perdamaian) Failaika Ya'uudu As Salaam (Maka kepadaMu damai akan kembali) Tabaarakta Rabbanaa Yaa Dzal Jalaali Wal Ikraam (Maha Suci Engkau Wahai Tuhan Kami Wahai yang mempunyai kemuliaan)
Aamiin..
Bogor, 21 November 2012

Posting Komentar untuk "Konflik"