Sebagai hadiah, malaikat menanyakan
apakah aku ingin berjalan di atas
mega
dan aku menolak,
karena kaki ku masih di bumi,
sampai kejahatan terakhir
dimusnahkan,
sampai dhu’afa dan mustadh’afin
diangkat Tuhan dari penderitaan.
(Kuntowijoyo; Makrifat Daun Daun
Makrifat)
Ada perbedaan antara seorang manusia
biasa dengan seorang nabi, kata Muhammad Iqbal seorang filosof muslim dari
Pakistan. Manusia biasa saat sudah berada sangat dekat dengan Tuhan, dia tidak
akan mau disuruh kembali ke dunia kemanusiaan. Posisi sangat dekat dengan Tuhan
sangatlah sulit dicapai oleh manusia biasa, sehingga tidaklah mudah
meninggalkan posisi tersebut. Lain hal nya dengan nabi, saat sudah berada
sangat dekat dengan Tuhan, nabi bersedia untuk kembali ke dunia kemanusiaan dan
menjadi agen untuk transformasi social. Nabi Muhammad saw. dianugerahi oleh
Allah swt. untuk melakukan Isra Mi’raj. Peristiwa tersebut menjadi puncak
kedekatan Nabi Muhammad saw. dengan Allah swt, yaitu pertemuan antara keduanya
di Sidratul Muntaha. Lantas, apakah yang lebih diimpikan bagi seorang manusia
selain bertemu Tuhannya? Saat mencapai maqam tersebut, mungkin manusia biasa
akan meminta kepada Tuhan untuk selamanya berada bersama dengan Tuhan. Untuk
apa kembali ke dunia yang penuh derita, masalah, tantangan dan berbagai macam
kesulitan. Namun Nabi Muhammad saw. tidak seperti itu, beliau bersedia
menunaikan perintah Allah swt. untuk kembali ke dunia dan meneruskan risalah
profetik. Salah satunya adalah yukhriju an naas min azh zhulumaat ila an
nuur (to enlighten people).
Bagaimana Nabi Muhammad saw.
melakukan transformasi social? Transformasi social yang dilakukan oleh Nabi
Muhammad saw. adalah pembebasan (liberating) terhadap kaumnya. Setidaknya ada 2
jenis penindasan yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw. Yang pertama adalah
penindasan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan dalam bentuk kemusyrikan.
Kita tahu bahwa pada zaman itu manusia beramai-ramai menyembah patung yang jauh
lebih rendah posisinya dari manusia. Padahal Allah swt telah berfirman dalam
surat Al Isra: 70 “Dan sesungguhnya telah Kami
muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri
mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. Ayat tersebut
dengan jelas menyebutkan bahwa disbanding makhluk ciptaan Allah yang lain,
manusialah yang paling banyak kelebihannya. Hal ini wajar, mengingat manusialah
yang dititipi oleh Allah swt. untuk mengelola bumi ini. Oleh karena itu tak
aneh kalau dalam surat Luqman : 13 Allah swt. berfirman: “Dan (ingatlah)
ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."
Syirik adalah kezhaliman yang besar, lantas siapa yang dizhalimi? Yang
dizhalimi adalah harkat dan martabat kemanusiaan kita sendiri.
Selama
13 tahun di Mekkah, Nabi Muhammad saw. Berjuang menegakan kalimat tauhid kepada
kaum kafir quraisy. Kalimat tersebut adalah “Laa Ilaaha Illallah”, Tiada yang
berhak disembah kecuali Allah. Kalimat ini sangat revolusioner bagi kondisi
masyarakat pada waktu itu yang terlanjur tenggelam dalam politeisme kaum pagan.
Dengan kalimat tauhid ini, Nabi Muhammad saw. Ingin menegaskan kembali bahwa
satu-satunya yang boleh diibadahi, boleh disembah, menjadi tempat bergantung,
hanyalah Allah swt, pemilik semesta alam. Konsekuensinya adalah bahwa selain
Allah swt. itu tidak lebih tinggi derajatnya dari manusia. Patung itu itu
terbuat dari batu, batu itu berasal dari alam, dan alam itu tidak lebih tinggi
derajatnya manusia. Kenapa alam tidak lebih tinggi derajatnya? Karena memang
alam telah ditundukan oleh Allah swt. untuk kepentingan manusia. Sekarang kalau
ternyata malah alam yang disembah? Ini sudah menyalahi SOP yang telah
ditetapkan Allah swt. Sebenarnya dengan akal sehat pun kita dapat memahami
logika ini. Namun terkadang hawa nafsu lah yang memperbudak akal sehingga
senantiasa berada dalam kebodohan. Allah swt. berfirman: “Maka pernahkah
kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya” (QS. Al
Jatsiyah : 23).
Setelah
membebaskan manusia dari perbudakan atas harkat dan martabatnya sendiri,
selanjutnya misi Nabi Muhammad saw adalah membebaskan manusia dari perbudakan
oleh sesamanya. Dalam sirah Nabi Muhammad saw. Diceritakan bahwa si zaman nabi
terjadi berbagai penindasan manusia oleh manusia lain. Misalnya marginalisasi
derajat perempuan masyarakat, sehingga perempuan dianggap masyarakat sebagai
warga kelas 2 setelah laki-laki. Mempunyai anak perempuan masih dianggap aib,
perempuan tidak mendapat harta warisan bahkan menjadi barang yang diwariskan.
Selain itu eksploitasi ekonomi terhadap kaum dhuafa merajalela dengan
menyebarnya praktek riba. Orang yang miskin semakin tercekik karena harus
membayar bunga dengan berlipat ganda. Sedangkan orang kaya semakin kaya dari
hasil riba. Lalu perbudakan pun masih menjadi hal yang lumrah pada waktu itu.
Hamba sahaya masih menjadi sesuatu yang lumrah diperjual belikan di
pasar-pasar. Hamba sahaya tersebut tidak mempunyai kemerdekaan yang sama dengan
manusia-manusia lainnya. Mereka hidup dalam kuasa tuannya. Apakah Nabi diam
melihat keadaan itu? Tentu tidak. Risalah profetik mengharuskan beliau untuk
membebaskan masyarakat dari perbudakan sesamanya. Selama kurang lebih 11 tahun
di Madinah, secara bertahap turun ayat-ayat Al Quran yang melarang praktek
penindasan tersebut. Ayat tentang warits, ayat pengharaman riba, dan ayat
keutamaan membebaskan hamba sahaya sebagian besar turun saat periode Madinah
ini.
Allah
swt. berfirman : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al
Hujurat: 13) Ayat ini menegaskan bahwa pada hakikatnya semua manusia adalah
sederajat, tidak ada kelebihan satu dengan lainnya kecuali berdasarkan
ketakwaannya. Oleh karenanya Islam tidak mengenal system kasta yang membuat
manusia bertingkat-tingkat derajatnya. Kesimpulan yang bisa diambil dari misi
profetik Nabi Muhammad saw. Adalah menegakan tauhid. Menegakan tauhid maknanya
bahwa terhadap alam maka manusia derajatnya lebih tinggi, oleh karena itu alam
harus dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan sesama manusia
maka sama derajatnya. Karena alam lebih rendah derajatnya dari manusia, dan
manusia sama derajatnya, maka satu-satunya yang lebih tinggi derajatnya dari
manusia adalah Allah swt. Laa Ilaaha Illallah.
Lantas,
apa hubungan uraian panjang di atas dengan kampus kita STEI Tazkia? Biar
bagaimana pun kampus mempunyai peranan strategis dalam mencetak kader-kader
intelektual. Kader-kader intelektual ini idealnya bisa meneladani Nabi Muhammad
saw. dalam setiap aktivitasnya. Meneladani Nabi berarti juga melaksanakan misi
profetik yang diemban beliau, yakni turun ke masyarakat, dan menegakan kalimat
tauhid. Penegakan kalimat tauhid ini berupa desakralisasi alam yang seringkali
masih disakralkan oleh masyarakat dalam bentuk klenik, mitos atau takhayul, dan
membebaskan masyarakat dari penindasan yang dilakukan sesamanya. Intelektual
yang bisa melakukan 2 hal tadi layak disebut intelektual profetik.
Mungkinkah STEI Tazkia mencetak intelektual-intelektual profetik? STEI Tazkia seperti yang diketahui merupakan kampus ekonomi Islam. Ekonomi Islam sebagaimana sering kita dengar senantiasa mengklaim sebagai solusi terhadap permasalah ekonomi di Indonesia. Tentu kita layak berharap banyak terhadap ekonomi Islam karena menolak dengan keras riba yang merupakan praktek eksploitasi sesame manusia, Selain itu beberapa transaksi seperti gharar, tadlis, maysir pun ditentang keras oleh ekonomi Islam karena ada unsur kezhaliman di dalamnya. Sikap anti terhadap kezhaliman (baca:penindasan) merupakan salah satu sifat dari intelektual profetik.
Mungkinkah STEI Tazkia mencetak intelektual-intelektual profetik? STEI Tazkia seperti yang diketahui merupakan kampus ekonomi Islam. Ekonomi Islam sebagaimana sering kita dengar senantiasa mengklaim sebagai solusi terhadap permasalah ekonomi di Indonesia. Tentu kita layak berharap banyak terhadap ekonomi Islam karena menolak dengan keras riba yang merupakan praktek eksploitasi sesame manusia, Selain itu beberapa transaksi seperti gharar, tadlis, maysir pun ditentang keras oleh ekonomi Islam karena ada unsur kezhaliman di dalamnya. Sikap anti terhadap kezhaliman (baca:penindasan) merupakan salah satu sifat dari intelektual profetik.
Salah
satu aktivitas konkret yang dilakukan STEI Tazkia adalah mengembangkan
micro-finance yang dikelola dan dikembangkan oleh LPPM. Hal ini menjadi wujud
nyata pemihakan Ekonomi Islam terhadap kaum dhuafa. Intelektual profetik dalam
bidang ekonomi Islam harus membuktikan bahwa ekonomi Islam bukanlah ekonomi
kapitalis yang berlabel Islam. Selain itu slogan Islam sebagai solusi dalam
beberapa puluh tahun ke depan pun harus konkret terwujud, bukan hanya sekedar
lips service agar orang-orang tertarik dengan ekonomi Islam. Hal ini tentu
butuh kerja keras (jihad) dari semua pihak. Namun percayalah dengan janji
Allah, barang siapa yang bekerja keras di jalanNya, maka Allah swt. akan
menunjukan banyak jalan.
Bogor, 30 April 2013

Posting Komentar untuk "Menuju Kampus Profetik"