Selama 4 semester kuliah di STEI Tazkia, baru pada semester 5 ini saya bertemu dengan dosen yang sangat unik menurut saya. Namanya Pak Irwan Abdallah, beliau mengampu mata kuliah Islamic Capital Market (Pasar Modal Islam). Apa yang memuat beliau sangat unik menurut saya? Yang pertama, pembawaannya yang sangat santai dan humoris. Namun jangan salah, walau terkesan santai, tapi ilmunya bro. Beliau benar-benar menguasai yang beliau ajarkan. Ah, banyak kok dosen yang seperti itu.. Ok, saya beri alasan kedua, yaitu aturan-aturannya yang aneh. Contohnya beliau tidak peduli dengan absen, bahkan mengizinkan mahasiswanya menitipkan absensi kepada temannya. Jadi ya bagi Pak Irwan, mau mahasiswa itu satu semester tidak masuk gak masalah, yang penting pas UTS dan UAS si mahasiswa bisa menjawab dengan baik. Namun jangan senang dulu, Pak Irwan lalu menceritakan bahwa yang sudah-sudah, yang tidak pernah masuk kelas ya UTS dan UAS nya jeblok. Lalu mata kuliah yang diampu oleh beliau pun termasuk yang sering memberikan nilai jelek kepada para mahasiswa. Lho, kok bisa? Karena soal-soal yang ditanyakan oleh Pak Irwan bukanlah apa yang ada di slide presentasi beliau, namun soal-soal yang ingin mengukur sejauh mana pemahaman kita. Jadi kalau kita hanya memindahkan apa yang ada di slide untuk menjawab soal, ya beliau tidak terlalu mengapresiasi, bahkan bisa jadi disalahkan.
Nah, hal unik lainnya adalah beliau tergolong orang yang asyik dalam menerangkan ekonomi Islam, malahan membuat saya semangat mempelajari ekonomi Islam. Mengapa? Karena beliau menerangkan ekonomi Islam dengan jujur, apa adanya dan bersahaja. Maksudnya apa? Beliau bukan orang yang suka mengklaim-klaim tanpa bukti. Misalnya ekonomi Islam itu solusi segala permasalahan. Beliau bilang, memangnya Islam itu sakti, tetap saja manakala yang mengaplikasikannya manusia ya tidak bisa sesakti itu. Namun beliau pun bukan orang yang sinis atau skeptis terhadap ekonomi Islam. Jadi beliau ini realistis, beliau mengajarkan ekonomi Islam dengan sederhana dan jujur. Ini yang sangat jarang saya dapat dalam mempelajari ekonomi Islam. Ada yang over confident bahwa dengan ekonomi Islam, Dinar Dirham, sim salabim semua masalah selesai. Namun ada pula yang over sinis yang dia menghujat ekonomi Islam padahal dia sendiri tidak tahu apa itu ekonomi Islam. Pak Irwan ini berada di antara dua ekstrem ini.
Lalu mengapa beliau ini begitu realistis? Karena beliau adalah praktisi yang merasakan langsung terjun di lapangan. Beliau bukan teoritisi yang hanya memikirkan sesuatu yang ideal. Nah, ada pernyataan beliau yang menarik yang mengingatkan saya pada pernyataan ustadz saya di pesantren bertahun yang lalu. Yaitu bahwa antara teori dan praktek pasti selalu ada kesenjangan. Praktek tidak mungkin 100% sama dengan teori begitupun teori tidak mungkin 100% dapat dipraktikan. Contohnya dalam ekonomi syariah ada yang berteori bahwa yang harus digunakan adalah dinar dirham. Selain dinar dirham maka riba, bahkan yang mengatakan ini sampai mengatakan bahwa bank syariah itu tidak syar'i. Jelas dinar dirham itu akan efektif sebagai mata uang dalam kondisi apa? Jelas tidak di semua kondisi dinar dirham ini bisa digunakan. Lalu ada yang benar-benar mengharamkan pasar modal, nah menurut beliau tidak bisa semudah itu.
Lantas, apa yang membuat beliau tertarik belajar ekonomi Islam? Awalnya dari milis. Beliau masuk milis ekonomi syariah, dan beliau kaget karena yang lebih banyak dibahas adalah soal halal haram dan surga dan neraka. Transaksi ini halal, yang ini haram. Ini haram, maka neraka. Beliau kemudian berfikir, apa Islam itu seseram ini? Namun berkat hal itu beliau malah jadi kuliah lagi untuk mempelajari ekonomi Islam. Dan hasilnya ya pemahaman ekonomi Islam seperti yang saya paparkan di atas. Beliau awalnya jurusan ekonomi dan studi pembangunan Universitas Padjadjaran. Namun kalau biasanya lulusan perguruan tinggi umum saat mempelajari ilmu-ilmu Islam mereka seperti langsung tersihir sehingga tidak bisa berfikir jernih dan kritis terhadap Islam, nah Pak Irwan ini tidak seperti itu. Beliau tetap bisa proporsional dan rasional dalam menilai sesuatu.
Nah, hal unik lainnya adalah beliau tergolong orang yang asyik dalam menerangkan ekonomi Islam, malahan membuat saya semangat mempelajari ekonomi Islam. Mengapa? Karena beliau menerangkan ekonomi Islam dengan jujur, apa adanya dan bersahaja. Maksudnya apa? Beliau bukan orang yang suka mengklaim-klaim tanpa bukti. Misalnya ekonomi Islam itu solusi segala permasalahan. Beliau bilang, memangnya Islam itu sakti, tetap saja manakala yang mengaplikasikannya manusia ya tidak bisa sesakti itu. Namun beliau pun bukan orang yang sinis atau skeptis terhadap ekonomi Islam. Jadi beliau ini realistis, beliau mengajarkan ekonomi Islam dengan sederhana dan jujur. Ini yang sangat jarang saya dapat dalam mempelajari ekonomi Islam. Ada yang over confident bahwa dengan ekonomi Islam, Dinar Dirham, sim salabim semua masalah selesai. Namun ada pula yang over sinis yang dia menghujat ekonomi Islam padahal dia sendiri tidak tahu apa itu ekonomi Islam. Pak Irwan ini berada di antara dua ekstrem ini.
Lalu mengapa beliau ini begitu realistis? Karena beliau adalah praktisi yang merasakan langsung terjun di lapangan. Beliau bukan teoritisi yang hanya memikirkan sesuatu yang ideal. Nah, ada pernyataan beliau yang menarik yang mengingatkan saya pada pernyataan ustadz saya di pesantren bertahun yang lalu. Yaitu bahwa antara teori dan praktek pasti selalu ada kesenjangan. Praktek tidak mungkin 100% sama dengan teori begitupun teori tidak mungkin 100% dapat dipraktikan. Contohnya dalam ekonomi syariah ada yang berteori bahwa yang harus digunakan adalah dinar dirham. Selain dinar dirham maka riba, bahkan yang mengatakan ini sampai mengatakan bahwa bank syariah itu tidak syar'i. Jelas dinar dirham itu akan efektif sebagai mata uang dalam kondisi apa? Jelas tidak di semua kondisi dinar dirham ini bisa digunakan. Lalu ada yang benar-benar mengharamkan pasar modal, nah menurut beliau tidak bisa semudah itu.
Lantas, apa yang membuat beliau tertarik belajar ekonomi Islam? Awalnya dari milis. Beliau masuk milis ekonomi syariah, dan beliau kaget karena yang lebih banyak dibahas adalah soal halal haram dan surga dan neraka. Transaksi ini halal, yang ini haram. Ini haram, maka neraka. Beliau kemudian berfikir, apa Islam itu seseram ini? Namun berkat hal itu beliau malah jadi kuliah lagi untuk mempelajari ekonomi Islam. Dan hasilnya ya pemahaman ekonomi Islam seperti yang saya paparkan di atas. Beliau awalnya jurusan ekonomi dan studi pembangunan Universitas Padjadjaran. Namun kalau biasanya lulusan perguruan tinggi umum saat mempelajari ilmu-ilmu Islam mereka seperti langsung tersihir sehingga tidak bisa berfikir jernih dan kritis terhadap Islam, nah Pak Irwan ini tidak seperti itu. Beliau tetap bisa proporsional dan rasional dalam menilai sesuatu.
wiih a robby~~~~ :)
BalasHapus